KESULITAN air sepanjang kemarau merupakan masalah rutin yang dihadapi
warga Gunung Kidul. Berdasarkan data Bagian Perekonomian dan
Pembangunan Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, warga penderita
kekeringan tahun ini berada di 11 dari 18 kecamatan, meliputi Kecamatan
Tepus, Tanjungsari, Girisubo, Purwosari, Ponjong, Panggang, Semanu,
Paliyan, Saptosari, Rongkop, dan Wonosari.

Penderita kekeringan di 11 kecamatan mencapai 37.930 keluarga atau
132.625 jiwa yang tersebar di 322 dusun dan 51 desa. Dari jumlah ini,
16.699 keluarga atau 58.601 jiwa tergolong miskin. Warga yang
kekeringan tahun ini, meningkat dibandingkan tahun 2003 yang berjumlah
29.980 keluarga atau 119.045 jiwa, dan 93.928 jiwa di antaranya
tergolong miskin.

Selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul
memberi bantuan air bersih kepada warga miskin. Bantuan disalurkan
melalui truk-truk tangki air berkapasitas 4.000 liter. Dari bantuan
tersebut, setiap keluarga miskin mendapat jatah air rata-rata dua
jeriken setiap bulan. Jatah ini umumnya hanya cukup untuk kebutuhan
sehari.

Bantuan air dari pemerintah dipasok dari enam sumur, yaitu sumur di
Desa Wareng, Karangrejek, Pancuran, Siraman, Baleharjo, dan Ngeposari.
Dana yang disediakan untuk bantuan air tahun ini Rp 400 juta dari APBD
Gunung Kidul.

Kepala Sub-bidang Industri, Pariwisata, Pertambangan, dan Energi Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Gunung Kidul, Birowo Adhie
mengungkapkan, Gunung Kidul yang memiliki jajaran Pegunungan Sewu
merupakan wilayah potensial sumber air.

Grojogan Slempret yang belum dimanfaatkan
Grojogan Slempret yang belum dimanfaatkan

“Pegunungan sewu di Gunung Kidul memiliki kandungan sungai bawah tanah
dengan debit air yang tinggi. Akan tetapi, pemanfaatannya belum
optimal, sehingga air sungai bawah tanah banyak terbuang ke Samudra
Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data PDAM Gunung Kidul, terdapat empat sumber air sungai
bawah tanah yang memiliki debit air memadai, yaitu Sumber Air Baron
dengan debit air 1.080 liter per detik, Sumber Air Seropan dengan debit
800 liter per detik, Sumber Air Ngobaran dengan debit air 135 liter per
detik, dan Sumber Air Bribin dengan debit air 1.000 liter per detik.

Namun, kapasitas produksi sumber air itu jauh dari kapasitas. Debit
produksi Sumber Air Baron 15-20 liter per detik, Sumber Air Seropan
dimanfaatkan 100 liter per detik, Sumber Air Ngobaran digunakan 40-60
liter per detik, dan Bribin 80 liter per detik.

“Persoalannya, pompa dan genset untuk menyedot dan mengalirkan air
tidak memadai. Pompa yang terpasang tidak sesuai dengan debit air,
padahal air harus dipompa secara bertingkat untuk menjangkau wilayah
yang paling tinggi,” kata FX Wudiyanto, Direktur Teknik PDAM Gunung
Kidul.

KEBERADAAN proyek pengeboran dan pemompaan air Goa Bribin, atau Proyek
Bribin II di Goa Bribin, Dusun Sindon, Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu,
Gunung Kidul, yang tengah berlangsung, memberi secercah harapan bagi
masyarakat Gunung Kidul.

Pengeboran secara vertikal dilaksanakan sejak 8 Juli lalu menggunakan
mesin bor M-862 M VSM 2500 berdiameter 2,4 meter. Hingga akhir
September 2004, pengeboran mencapai kedalaman 62 meter. Diperkirakan,
pengeboran akan mencapai kedalaman 102 meter, hingga menyentuh
langit-langit Goa Bribin. Pengeboran dilanjutkan dengan membendung
sungai bawah tanah, dan penempatan turbin yang berfungsi memompa air
sungai bawah tanah.

Proyek pengeboran dan pemompaan air Bribin merupakan kerja sama Badan
Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Pemerintah Provinsi DIY, Kementerian
Riset dan Teknologi Indonesia melalui Riset Unggulan Terpadu
Internasional (RUTI), dengan Pemerintah Jerman (Federal Ministry of
Education Research), Universitat Karlsruhe- Jerman, dan perusahaan
Herrenknecht Aktien Gesellschaft (AG) Schwanau asal Jerman.

Perangkat pengeboran dan pemompaan air di Bribin yang bernilai sekitar
Rp 70 miliar merupakan sumbangan Pemerintah Jerman, bekerja sama dengan
Universitas Karlsruhe- Jerman. Alat-alat penunjang pengeboran, di
antaranya mesin pengangkut (tower crane), generator set, dan pelapis
baja, disumbangkan Pemerintah Indonesia dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Koordinator tim teknis Proyek Bribin II As Natio Lasman menjelaskan,turbin

dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, sekaligus memompa air hingga

kapasitas 138 liter per detik. Selanjutnya, air ditampung pada tandon (reservoir),

dan dialirkan bersama air dari Proyek Bribin I yang debitnya 80 liter per detik.

Kini, warga Gunung Kidul banyak berharap pada keberhasilan proyek
Bribin II yang ditargetkan selesai akhir 2005. Warga berharap, proyek
bernilai miliaran rupiah tersebut dapat mengalirkan air ke jaringan
pipa milik warga yang selama ini tidak terisi air. Lebih dari itu,
warga berharap tidak lagi terbebani biaya pembelian air dari tangki
yang relatif mahal.

“Kalau air dari Bribin nanti mengalir, insya Allah pipa bisa
mengalirkan air lagi. Jadi, warga tidak terus-menerus kesulitan air di
musim kemarau,” harap Bariah, warga Dusun Candisari.

Pertanyaannya, mampukah pasokan air dari Proyek Bribin II memenuhi
harapan sebagian besar warga Gunung Kidul untuk mencukupi kebutuhan air?

Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi DIY Tri Harjun
Ismaji mengakui, pasokan air dari Proyek Bribin II tak akan disalurkan
merata untuk seluruh warga Gunung Kidul. Menurut rencana, air sungai
bawah tanah itu hanya untuk lima kecamatan yang telah memiliki jaringan
air.

Tri Harjun menjelaskan, air dari Bribin akan disalurkan untuk warga
yang memiliki pipa jaringan air pada lima kecamatan di sekitar Bribin,
yaitu Kecamatan Semanu, Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Ponjong,
Kecamatan Tepus, dan Kecamatan Rongkop.

“Bagaimanapun, ini kan proyek uji coba dari Jerman. Saat ini, kami
masih memfokuskan agar air bisa dipompa keluar. Kalau air keluar,
sasaran awal pasokan air adalah lima kecamatan yang telah punya
jaringan air, supaya penyaluran air lebih mudah,” jelasnya.

About these ads