Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) merupakan teknologi yang
memanfaatkan aliran air sebagai tenaga untuk memutar turbin dan dinamo
atau generator sehingga menghasilkan energi listrik kurang dari 100 kilowatt. PLTMH biasanya digunakan untuk melayani kebutuhan listrik bagi masyarakat pedesaan yang tidak terjangkau layanan listrik negara.

Contoh PLTMH di Minggir, Sleman

Contoh PLTMH di Minggir, Sleman

Teknologi ini mulai diterapkan di banyak negara berkembang semenjak
tahun 1970an, misalnya di Nepal, Peru, Srilanka, Zimbabwe, dan sebagainya. Beberapa daerah di Indonesia sebetulnya sudah sejak lama mengenal dan menerapkan teknologi tersebut dengan cara merakitnya sendiri, misalnya di Sumatera Barat dan di Jawa Barat.

PLTMH merupakan salah satu pilihan pengubahan energi yang paling ramah lingkungan karena tidak seperti pembangkit listrik berskala besar,
PLTMH tidak mengganggu aliran sungai secara signifikan. Yang tidak kalah pentingnya adalah kajian tentang dampak sosial dan lingkungan yang akan ditimbulkan oleh pembangunan tersebut, misalnya seberapa jauh air akan meluap jika dibangun sebuah bendungan kecil, apakah aliran sungai akan terganggu dengan adanya bendungan tersebut, apakah ada lahan-lahan pertanian yang tergenang, dan sebagainya. Mereka sepakat untuk sebisa mungkin meminimalkan dampak buruk bagi lingkungan, misalnya dengan meminimalkan penebangan pohon.
Bangunan fisik yang disiapkan antara lain bendungan kecil sepanjang
lima meter untuk sekedar menaikkan aliran air, parit untuk mengalirkan
air sepanjang 10 meter, dan bak air tempat turbin di pasang. Selain itu
jaringan listrik sepanjang 400 meter dibuat untuk mengalirkan listrik dari
rumah turbin ke rumah panjang.

Tidak seperti pembangkit listrik lainnya yang menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, bensin, solar, dan sebagainya), PLTMH sama sekali tidak menggunakan bahan bakar tersebut. Penerapan PLTMH, oleh karena itu, merupakan upaya positif untuk mengurangi laju perubahan iklim global yang sedang menjadi isu penting dewasa ini. PLTMH berkaitan erat dengan sumber air di daerah hulu sebagai energi utamanya. Oleh karena itu pembangunan PLTMH membuat masyarakat semakin giat menjaga lingkungan, termasuk hutan demi terus tersedianya pasokan aliran sungai. Di sini masyarakat akan merasakan langsung jasa lingkungan yang seringkali tidak diperhitungkan.
Listrik murah dan ramah lingkungan ini berdampak positif bagi masyarakat. Dana untuk membeli bahan bakar bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, memajukan pendidikan karena anak-anak bisa belajar dengan baik di malam hari, memudahkan akses informasi melalui saluran televisi, hingga meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatankegiatan produksi skala kecil yang menghasilkan pendapatan tambahan.
Pembangunan PLTMH di daerah pedesaan tidak lepas dari peran kolektif masyarakat itu sendiri. Merekalah yang mengelola secara mandiri dan membentuk lembaga pengelola, sehingga PLTMH bisa menjadi wahana belajar bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan melalui aksi-aksi kolektif.

Beberapa prasyarat fisik diperlukan dalam membangun PLTMH, antara lain:

  1. Ketersediaan aliran air yang konstan atau tetap dalam ukuran debit tertentu. Ukuran debit air akan menentukan besarnya energi yang mampu dihasilkan. Setiap ukuran turbin membutuhkan debit air tertentu.
  2. Adanya turbin untuk memutar kumparan dinamo listrik. Ada berbagai macam jenis turbin yang sekarang dikembangkan oleh beberapa lembaga di Indonesia guna menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi alam yang beragam, salah satunya Cihanjuang Inti Teknik di Bandung, Jawa Barat. (http://www.hanjuang.co.id/index.html).
  3. Dinamo, untuk mengubah energi yang dihasilkan oleh putaran turbin menjadi listrik.
  4. Jaringan listrik dari rumah turbin ke pengguna.

Langkah-langkah membangun PLTMH:

  1. Masyarakat berunding untuk membuat kesepakatan dan rencana bersama.
  2. Mengajak ahli untuk melakukan survey lapangan tentang potensi aliran air untuk PLTMH, termasuk mengukur debit dan ketinggian air (sering disebut head).
  3. Menilai dampak lingkungan yang akan diakibatkan oleh pembangunan PLTMH.
  4. Menghitung kebutuhan listrik masyarakat yang akan memanfaatkan. Hal ini penting dilakukan karena kapasitas PLTMH tak terlalu besar, sehingga perlu perhitungan yang cermat untuk menghindari konflik masyarakat.
  5. Menghitung biaya yang diperlukan (pembelian seperangkat turbin, pembangunan sipil, jaringan, dan sebagainya).
  6. Berunding untuk memikirkan dari mana biaya akan didapat, apakah swadaya, bantuan, atau semi-swadaya.

Setelah pembangunan fisik PLTMH, maka pengelolaan dan perawatan merupakan hal yang sangat penting. Perangkat PLTMH (turbin, dinamo) dan
bangunan fisik pendukungnya (bendungan, saluran air, bak penampung,
jaringan listrik dan rumah turbin) memerlukan perawatan. Di samping
maanfaatnya yang besar, listrik juga berbahaya sehingga perlu kehati-hatian
menggunakannya.
Perlu dipertimbangkan bagaimana cara merawatnya dan jika ada kerusakan,
mekanisme mendapatkan biaya perawatan, siapa yang bertanggung jawab,
dan sebagainya. Di Sungai Pelaik, misalnya, masyarakat sepakat untuk iuran
masing-masing pintu (rumah) sebesar Rp. 10.000 setiap bulannya. Disepakati
pula dua orang sebagai operator. Intinya membangun PLTMH bukan pekerjaan sulit, namun pengelolaan dan perawatan ke depannya merupakan tantangan bagi masyarakat. (diambil dari http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/research/…/TNDNews3.pdf)