Setelah mengalami ketidakjelasan waktu Pengumuman Kelulusan b akhirnya sekarang Berbagai macam ekspresi muncul, baik bagi siswa yang lulus maupun yang tidak lulus. Seperti tahun-tahun sebelumnya, fenomena tentang perilaku yang berlebihan dari siswa kerapkali mewarnai setiap kali pengumuman kelulusan UN. Bagi siswa yang lulus, mereka biasanya melakukan konvoi dengan sepeda motor keliling kota dengan disertai aksi corat-coret baik di baju maupun di tempat-tempat yang dilalui. Tentu aksi vandalisme ini tidak perlu terjadi, jika aparat kepolisian dengan Dinas Pendidikan sigap dalam membaca keadaan.

Sementara bagi siswa yang lulus UN, diharapkan tidak hanyut dalam ”efouria kelulusan” sehingga melupakan tahapan selanjutnya dalam menyongsong masa depan. Bagi siswa SMA tentu pilihan yang terbaik setelah lulus adalah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karenanya mereka masih harus menghadapi perjuangan yang lain, yakni memperebutkan bangku kuliah di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang persaingannya sangat ketat. Tingkat kelulusannya pun jauh lebih sulit dari UN. Salah satu ujian masuk ke PTN yang kini kita kenal adalah SNM-PTN (Seleksi Nasional Masuk- Perguruan Tinggi Negeri) yang akan digelar pada 1 -2 Juli mendatang. Untuk menghadapi SNM-PTN tersebut tentu siswa harus kembali memompa semangat belajarnya lagi.

Sedangkan bagi siswa yang kebetulan belum lulus UN janganlah patah arang. Tidak lulus UN bukanlah akhir dari segalanya, itu hanyalah keberhasilan yang tertunda. Janganlah gelap mata hingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan tidak saja bagi diri sendiri melainkan juga bagi keluarga, sekolah dan masyarakat pada umumnya. Masih ada kesempatan untuk dapat lulus dari bangku SMA, yakni dengan mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C, yang akan diselenggarakan pada 23-26 juni mendatang. Tidak ada salahnya juga bila kalian tetap ingin mengulang UN pada tahun mendatang, tentu dengan persiapan yang lebih baik lagi.

Tidak hanya siswa, kepala sekolah, kepala dinas dan kepala daerah pun menunjukan ekspresi yang beragam terkait pengumuman hasil UN. Bagi guru yang siswanya berhasil tentu akan merasa bersyukur karena dianggap telah berhasil mendidik siswanya. Bagi guru mata pelajaran yang kebetulan siswanya ada yang tidak lulus biasanya akan mengalami beban moril yang cukup berat. Kegagalan siswanya ditumpahkan pada kegagalan dirinya, sehingga banyak guru-guru mata pelajaran yang kemudian menolak untuk mengajar dikelas XII (atau : kelas tiga). Hal seperti itu semestinya tak perlu terjadi, karena kegagalan dalam suatu proses pendidikan bukanlah suatu hal yang tabu melainkan suatu bagian dalam proses pendidikan itu sendiri.

Bagi kepala sekolah yang kebetulan angka kelulusannya tidak seratus persen janganlah lantas mengkambinghitamkan guru dengan tuduhan guru tidak dapat mengajar dengan becus. Atau juga mengkambinghitamkan tim sukses yang dianggap tidak berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Demikian juga dengan kepala dinas pendidikan atau kepala daerah yang merasa kebakaran jenggot jika tidak dapat mencapai target kelulusan seratus persen. Sikap bijak yang perlu dilaksanakan adalah dengan menjadikan hasil UN sebagai evaluasi kinerja secara keseluruhan. Sehingga diharapkan dimasa mendatang pelaksanaan UN dan hasilnya dapat lebih baik lagi, baik dari aspek material maupun spritual.

Namun sayangnya keberhasilan UN masih belum terbebas dari indikasi kecurangan. Bahkan dirasakan tingkat kecurangan UN makin meluas dan melibatkan banyak pihak, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah sampai kepada kalangan birokrat. Semua ini terjadi karena keberhasilan UN masih dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menetukan kelulusan. Karena memang kalau dilihat kenyataan yang diamati secara langsung dilapangan seperti itulah adanya. Hampir dapat dipastikan siswa yang telah berhasil dalam UN, berhasil juga dalam ujian sekolah ataupun praktek sehingga dinyatakan lulus dari suatu satuan pendidikan. Oleh karenanya UN akan terus dianggap sebagai momok bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Terbukti, pengumuman hasil UN ini tidak hanya menyita perhatian bagi kalangan dunia pendidikan, melainkan juga dari berbagai kalangan birokrat termasuk capres dan cawapres. Karena selama ini tingkat keberhasilan UN masih dianggap sebagai indikator keberhasilan pendidikan di suatu sekolah atau bahkan suatu daerah. Tingkat kelulusan UN yang tinggi pada suatu daerah seringkali masih dijadikan ukuran kualitas pendidikan wilayah tersebut. Tentu pandangan ini sangatlah menyesatkan, karena sebenarnya persoalan kualitas pendidikan jauh lebih menyentuh pada hal-hal yang menyangkut proses pendidikan bukan pada hasil akhirnya. Proses pendidikan adalah hal-hal yang menyangkut sarana dan prasarana sekolah, profesionalisme guru dan kalaupun ada sistem evaluasi tentu sistem evaluasi yang lebih komprehensif dan berkesinambungan. Kita semua berharap pemerintah dapat mengembalikan paradigma pendidikan sesuai dengan makna dan filosofinya serta menghentikan segala bentuk politisir dalam pendidikan.