Setelah mengalami ketidakjelasan waktu Pengumuman Kelulusan b akhirnya sekarang Berbagai macam ekspresi muncul, baik bagi siswa yang lulus maupun yang tidak lulus. Seperti tahun-tahun sebelumnya, fenomena tentang perilaku yang berlebihan dari siswa kerapkali mewarnai setiap kali pengumuman kelulusan UN. Bagi siswa yang lulus, mereka biasanya melakukan konvoi dengan sepeda motor keliling kota dengan disertai aksi corat-coret baik di baju maupun di tempat-tempat yang dilalui. Tentu aksi vandalisme ini tidak perlu terjadi, jika aparat kepolisian dengan Dinas Pendidikan sigap dalam membaca keadaan.

Sementara bagi siswa yang lulus UN, diharapkan tidak hanyut dalam ”efouria kelulusan” sehingga melupakan tahapan selanjutnya dalam menyongsong masa depan. Bagi siswa SMA tentu pilihan yang terbaik setelah lulus adalah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karenanya mereka masih harus menghadapi perjuangan yang lain, yakni memperebutkan bangku kuliah di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang persaingannya sangat ketat. Tingkat kelulusannya pun jauh lebih sulit dari UN. Salah satu ujian masuk ke PTN yang kini kita kenal adalah SNM-PTN (Seleksi Nasional Masuk- Perguruan Tinggi Negeri) yang akan digelar pada 1 -2 Juli mendatang. Untuk menghadapi SNM-PTN tersebut tentu siswa harus kembali memompa semangat belajarnya lagi.

Sedangkan bagi siswa yang kebetulan belum lulus UN janganlah patah arang. Tidak lulus UN bukanlah akhir dari segalanya, itu hanyalah keberhasilan yang tertunda. Janganlah gelap mata hingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan tidak saja bagi diri sendiri melainkan juga bagi keluarga, sekolah dan masyarakat pada umumnya. Masih ada kesempatan untuk dapat lulus dari bangku SMA, yakni dengan mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C, yang akan diselenggarakan pada 23-26 juni mendatang. Tidak ada salahnya juga bila kalian tetap ingin mengulang UN pada tahun mendatang, tentu dengan persiapan yang lebih baik lagi.

Tidak hanya siswa, kepala sekolah, kepala dinas dan kepala daerah pun menunjukan ekspresi yang beragam terkait pengumuman hasil UN. Bagi guru yang siswanya berhasil tentu akan merasa bersyukur karena dianggap telah berhasil mendidik siswanya. Bagi guru mata pelajaran yang kebetulan siswanya ada yang tidak lulus biasanya akan mengalami beban moril yang cukup berat. Kegagalan siswanya ditumpahkan pada kegagalan dirinya, sehingga banyak guru-guru mata pelajaran yang kemudian menolak untuk mengajar dikelas XII (atau : kelas tiga). Hal seperti itu semestinya tak perlu terjadi, karena kegagalan dalam suatu proses pendidikan bukanlah suatu hal yang tabu melainkan suatu bagian dalam proses pendidikan itu sendiri.

Bagi kepala sekolah yang kebetulan angka kelulusannya tidak seratus persen janganlah lantas mengkambinghitamkan guru dengan tuduhan guru tidak dapat mengajar dengan becus. Atau juga mengkambinghitamkan tim sukses yang dianggap tidak berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Demikian juga dengan kepala dinas pendidikan atau kepala daerah yang merasa kebakaran jenggot jika tidak dapat mencapai target kelulusan seratus persen. Sikap bijak yang perlu dilaksanakan adalah dengan menjadikan hasil UN sebagai evaluasi kinerja secara keseluruhan. Sehingga diharapkan dimasa mendatang pelaksanaan UN dan hasilnya dapat lebih baik lagi, baik dari aspek material maupun spritual.

Namun sayangnya keberhasilan UN masih belum terbebas dari indikasi kecurangan. Bahkan dirasakan tingkat kecurangan UN makin meluas dan melibatkan banyak pihak, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah sampai kepada kalangan birokrat. Semua ini terjadi karena keberhasilan UN masih dianggap sebagai satu-satunya faktor yang menetukan kelulusan. Karena memang kalau dilihat kenyataan yang diamati secara langsung dilapangan seperti itulah adanya. Hampir dapat dipastikan siswa yang telah berhasil dalam UN, berhasil juga dalam ujian sekolah ataupun praktek sehingga dinyatakan lulus dari suatu satuan pendidikan. Oleh karenanya UN akan terus dianggap sebagai momok bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Terbukti, pengumuman hasil UN ini tidak hanya menyita perhatian bagi kalangan dunia pendidikan, melainkan juga dari berbagai kalangan birokrat termasuk capres dan cawapres. Karena selama ini tingkat keberhasilan UN masih dianggap sebagai indikator keberhasilan pendidikan di suatu sekolah atau bahkan suatu daerah. Tingkat kelulusan UN yang tinggi pada suatu daerah seringkali masih dijadikan ukuran kualitas pendidikan wilayah tersebut. Tentu pandangan ini sangatlah menyesatkan, karena sebenarnya persoalan kualitas pendidikan jauh lebih menyentuh pada hal-hal yang menyangkut proses pendidikan bukan pada hasil akhirnya. Proses pendidikan adalah hal-hal yang menyangkut sarana dan prasarana sekolah, profesionalisme guru dan kalaupun ada sistem evaluasi tentu sistem evaluasi yang lebih komprehensif dan berkesinambungan. Kita semua berharap pemerintah dapat mengembalikan paradigma pendidikan sesuai dengan makna dan filosofinya serta menghentikan segala bentuk politisir dalam pendidikan.

Ilmu adalah suatu hal yang mulia, maka dari itu, beramal tanpa ilmu sama dengan ‘membabi-buta’. Merupakan kewajiban bagi tiap Muslim sebelum beramal adalah berilmu. Agar aqidah kita lurus dan terjaga kualitasnya, ia harus selalu kita pupuk dengan ilmu. Bila ‘pupuk’ ilmu ini benar, maka imannya pun akan tumbuh subur dan lurus, dan si empunya akan dihiasi dengan sikap dan sifat-sifat yang terpuji. Namun sebaliknya, apabila ilmunya tersebut adalah ‘racun’ maka ia akan menghancurkan tanaman iman dalam diri si Muslim. Yang akan membawa dia pada sikap skeptik agnostik dan melihat segala sesuatu dengan kacamata positivisme. Kebenaran bukanlah hal yang abadi, namun relatif……
Karena itu, kemungkaran yang terbesar dalam pandangan Islam, adalah kemungkaran dibidang aqidah atu kemungkaran yang mengubah dasar-dasar Islam. Kemungkaran ini berasal dari ‘rusaknya’ ilmu yang telah berubah statusnya dari pupuk menjadi racun. Kemungkaran di bidang ilmu lebih besar dibandingkan dengan amal. Sebagai contoh, dosa pengingkaran kewajiban sholat 5 waktu lebih besar dibandingkan dengan orang yang meninggalkan shalat karena alasan ‘malas’, tapi masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Demikian juga pengingkaran terhadap ayat-ayat alqur’an adalah lebih besar dosanya dibandingkan dengan orang yang tidak mengamalkannya akan tetapi masih meyakini kevalidannya….
Marilah kita pupuk iman kita dengan ilmu yang benar-benar ilmu, bukannya ‘racun’ yang akan mengobrak-abrik keimanan kita…….
Amal memang merupakan hal yang signifikan dalam Islam, tapi itu saja tidaklah cukup…..harus ada ilmu yang benar untuk mengarahkan amal tersebut….

Suatu hari, Imam Al-Ghozali berkumpul dengan muridmuridnya. Lalu Imam Al-Ghozali bertanya:

Pertama, Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab, “Orang tua, guru, kawan dan sahabat.” Imam Ghozali menjawab, “Semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah mati.

Kedua, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab, “Negara Cina, bulan, matahari dan bintangbintang.” Imam Ghozali menjelaskan, “Semua jawaban itu adalah benar, tapi ebenarnya yang paling jauh dari kita adalah masa lalu.”

Ketiga, “Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid muridnya menjawab , “Gu nu ng, bumi dan matahari”. Semua jawaban itu benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah nafsu.”

Keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Ada yang menjawab, “Besi dan gajah.” “Semua jawaban adalah benar,” kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah memegang amanah.”

Kelima. “Apa yang paling ringan di dunia ini?” Ada yang menjawab “Kapas, angin, debu dan daun-daunan.”Semua itu benar,” kata Imam Ghozali, “tapi yang paling ringan di dunia ini ada lah meninggalkan sholat.”

Keenam. “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “Pedang.””Benar,” kata Imam Ghozali, ”tapi yang paling tajamadalah lidah manusia.”

YAYASAN BAKTI INSAN MANDIRI

(YABIMA)

VISI YABIMA

Mewujudkan masyarakat madani yang professional, berakhlaqul karimah dan diridhai Allah SWT

MISI YABIMA
a. Berperan serta mengatasi problem sosial masyarakat.
b. Berperan serta dalam mencerdaskan kehidupan generasi bangsa dan masyarakat.
c. Berperan serta dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

TUJUAN
Mengadakan kegiatan di bidang pendidikan, social kemasyarakatan, kemanusian dan keagamaan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat

KOMPETENSI LEMBAGA

  1. Bidang Pendidikan : pendidikan dan pendampingan anak meliputi formal, non formal maupun taman bacaan
  2. Kemanusiaan : pendampingan korban bencana alam, fakir miskin
  3. Social kemasyarakatan : menyalurkan ZISWAF, pelayanan kesehatan , konsultasi keluarga dan anak, pendampingan dan penyantunan yatim dhuafa
  4. Pemberdayaan ekonomi masyarakat

ORGANISASI DAN MANAJEMEN

PENDIRI :

1. Ahmad Darmadi, S.Pd | 2. Agus Harmadi, S.Pd | 3.Kendah Romi, S.Pd

PENGAWAS:

1. Sudoto, S.Pd | 2. Munawar Hadi, S.Pd

PELAKSANA HARIAN

1
Ketua Umum Agus Harmadi, S.Pd
2
Sekretaris Ahmad Darmadi, S.Pd
3
Bendahara Dr Farida Nurrohmah
4
Bidang Pendidikan Siti Khasanah, S.Pd
5
Bidang Ekonomi Harmanto, SE
6
Bidang Sosial Masyarakat Arianto, S.Pd

TENAGA AHLI

  1. Aang Dahlan, M.Ag : Ahli Analisis Sosial
  2. H. Munawar, S.Ag : Ahli Konsultan Manajemen
  3. Agus Harmadi, S.Pd : Ahli Pelatihan
  4. Ahmad Darmadi, S.Pd : Ahli komputer
  5. Dr Farida Nurrohmah : Tenaga Medis
  6. Risma , Amd KesGi : Tenaga Medis
  7. Watiningsih, Amd Keb : Tenaga Medis
  8. Asar Janjang Lestari, S.Psi : Konsultan Keluarga dan Anak
  9. Siti Khasanah,STP : Ahli Pemberdayaan Perempuan
  10. Harmanto SE : Ahli Keuangan
  11. Asar Riyanti , SE : Ahli Manajemen Usaha Kecil
  12. Budi Haryanto, S.Pd : Ahli Pemberdayaan Masyarakat
  13. Ani Musfiroh, S.Tp Ahli Pemberdayaan Perempuan
  14. Sukamto : Relawan
  15. Arianto, S.Pd : Relawan
  1. KEGIATAN YANG SEDANG DITANGANI:
    a. Bidang Pendidikan : Taman balita , Kelompok Bermain, Taman Bacaan Masyarakat
    b. Penyaluran beasiswa dan pendampingan anak yatim dan dhuafa SD , SMP, SLTA
    c. Pelayanan Kesehatan Gratis di berbagai tempat wilayah kab gunungkidul
    d. Pelayanan Kesehatan Hewan Gratis di Kecamatan Ponjong dan Semin
    e. Konsultasi Keluarga dan Anak di Karangmojo
    f. Pelatihan AMT bagi generasi muda
    g. Pelatihan dan pendampingan usaha kecil : ternak ayam
    h. Pendampingan ekonomi pada usaha dekor dan rias pengantin Pendampingan anak korban gempa di daerah Gunungkidul ( Playen, Patuk)
  2. PENGALAMAN MENANGANI KEGIATAN
    Secara individu personil dei YABIMA sudah sangat berpengalaman dalam menangani proyek pemberdayaan masyarakat khususnya di Yogyakarta. Pengalaman tersebut antara Lain :
    a. Pemberdayaan masyarakat desa lewat program PPK (Program Pengembangan Kecamatan)
    b. Pemberdayaan perempuan sector informal di DI Yogyakarta
    c. Pemberdayaan masyarakat dengan program P2KP
    d. Trainer pemberdayaan pengrajin pesisir pantai
    e. Trainer AMT Karangtaruna
    f. Pendampingan Kelompok Tani hutan di Jateng dan DIY
    g. Pendampingan Trafficing Anak

KESULITAN air sepanjang kemarau merupakan masalah rutin yang dihadapi
warga Gunung Kidul. Berdasarkan data Bagian Perekonomian dan
Pembangunan Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, warga penderita
kekeringan tahun ini berada di 11 dari 18 kecamatan, meliputi Kecamatan
Tepus, Tanjungsari, Girisubo, Purwosari, Ponjong, Panggang, Semanu,
Paliyan, Saptosari, Rongkop, dan Wonosari.

Penderita kekeringan di 11 kecamatan mencapai 37.930 keluarga atau
132.625 jiwa yang tersebar di 322 dusun dan 51 desa. Dari jumlah ini,
16.699 keluarga atau 58.601 jiwa tergolong miskin. Warga yang
kekeringan tahun ini, meningkat dibandingkan tahun 2003 yang berjumlah
29.980 keluarga atau 119.045 jiwa, dan 93.928 jiwa di antaranya
tergolong miskin.

Selama tiga tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul
memberi bantuan air bersih kepada warga miskin. Bantuan disalurkan
melalui truk-truk tangki air berkapasitas 4.000 liter. Dari bantuan
tersebut, setiap keluarga miskin mendapat jatah air rata-rata dua
jeriken setiap bulan. Jatah ini umumnya hanya cukup untuk kebutuhan
sehari.

Bantuan air dari pemerintah dipasok dari enam sumur, yaitu sumur di
Desa Wareng, Karangrejek, Pancuran, Siraman, Baleharjo, dan Ngeposari.
Dana yang disediakan untuk bantuan air tahun ini Rp 400 juta dari APBD
Gunung Kidul.

Kepala Sub-bidang Industri, Pariwisata, Pertambangan, dan Energi Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Gunung Kidul, Birowo Adhie
mengungkapkan, Gunung Kidul yang memiliki jajaran Pegunungan Sewu
merupakan wilayah potensial sumber air.

Grojogan Slempret yang belum dimanfaatkan
Grojogan Slempret yang belum dimanfaatkan

“Pegunungan sewu di Gunung Kidul memiliki kandungan sungai bawah tanah
dengan debit air yang tinggi. Akan tetapi, pemanfaatannya belum
optimal, sehingga air sungai bawah tanah banyak terbuang ke Samudra
Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data PDAM Gunung Kidul, terdapat empat sumber air sungai
bawah tanah yang memiliki debit air memadai, yaitu Sumber Air Baron
dengan debit air 1.080 liter per detik, Sumber Air Seropan dengan debit
800 liter per detik, Sumber Air Ngobaran dengan debit air 135 liter per
detik, dan Sumber Air Bribin dengan debit air 1.000 liter per detik.

Namun, kapasitas produksi sumber air itu jauh dari kapasitas. Debit
produksi Sumber Air Baron 15-20 liter per detik, Sumber Air Seropan
dimanfaatkan 100 liter per detik, Sumber Air Ngobaran digunakan 40-60
liter per detik, dan Bribin 80 liter per detik.

“Persoalannya, pompa dan genset untuk menyedot dan mengalirkan air
tidak memadai. Pompa yang terpasang tidak sesuai dengan debit air,
padahal air harus dipompa secara bertingkat untuk menjangkau wilayah
yang paling tinggi,” kata FX Wudiyanto, Direktur Teknik PDAM Gunung
Kidul.

KEBERADAAN proyek pengeboran dan pemompaan air Goa Bribin, atau Proyek
Bribin II di Goa Bribin, Dusun Sindon, Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu,
Gunung Kidul, yang tengah berlangsung, memberi secercah harapan bagi
masyarakat Gunung Kidul.

Pengeboran secara vertikal dilaksanakan sejak 8 Juli lalu menggunakan
mesin bor M-862 M VSM 2500 berdiameter 2,4 meter. Hingga akhir
September 2004, pengeboran mencapai kedalaman 62 meter. Diperkirakan,
pengeboran akan mencapai kedalaman 102 meter, hingga menyentuh
langit-langit Goa Bribin. Pengeboran dilanjutkan dengan membendung
sungai bawah tanah, dan penempatan turbin yang berfungsi memompa air
sungai bawah tanah.

Proyek pengeboran dan pemompaan air Bribin merupakan kerja sama Badan
Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Pemerintah Provinsi DIY, Kementerian
Riset dan Teknologi Indonesia melalui Riset Unggulan Terpadu
Internasional (RUTI), dengan Pemerintah Jerman (Federal Ministry of
Education Research), Universitat Karlsruhe- Jerman, dan perusahaan
Herrenknecht Aktien Gesellschaft (AG) Schwanau asal Jerman.

Perangkat pengeboran dan pemompaan air di Bribin yang bernilai sekitar
Rp 70 miliar merupakan sumbangan Pemerintah Jerman, bekerja sama dengan
Universitas Karlsruhe- Jerman. Alat-alat penunjang pengeboran, di
antaranya mesin pengangkut (tower crane), generator set, dan pelapis
baja, disumbangkan Pemerintah Indonesia dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Koordinator tim teknis Proyek Bribin II As Natio Lasman menjelaskan,turbin

dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik, sekaligus memompa air hingga

kapasitas 138 liter per detik. Selanjutnya, air ditampung pada tandon (reservoir),

dan dialirkan bersama air dari Proyek Bribin I yang debitnya 80 liter per detik.

Kini, warga Gunung Kidul banyak berharap pada keberhasilan proyek
Bribin II yang ditargetkan selesai akhir 2005. Warga berharap, proyek
bernilai miliaran rupiah tersebut dapat mengalirkan air ke jaringan
pipa milik warga yang selama ini tidak terisi air. Lebih dari itu,
warga berharap tidak lagi terbebani biaya pembelian air dari tangki
yang relatif mahal.

“Kalau air dari Bribin nanti mengalir, insya Allah pipa bisa
mengalirkan air lagi. Jadi, warga tidak terus-menerus kesulitan air di
musim kemarau,” harap Bariah, warga Dusun Candisari.

Pertanyaannya, mampukah pasokan air dari Proyek Bribin II memenuhi
harapan sebagian besar warga Gunung Kidul untuk mencukupi kebutuhan air?

Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah Provinsi DIY Tri Harjun
Ismaji mengakui, pasokan air dari Proyek Bribin II tak akan disalurkan
merata untuk seluruh warga Gunung Kidul. Menurut rencana, air sungai
bawah tanah itu hanya untuk lima kecamatan yang telah memiliki jaringan
air.

Tri Harjun menjelaskan, air dari Bribin akan disalurkan untuk warga
yang memiliki pipa jaringan air pada lima kecamatan di sekitar Bribin,
yaitu Kecamatan Semanu, Kecamatan Karangmojo, Kecamatan Ponjong,
Kecamatan Tepus, dan Kecamatan Rongkop.

“Bagaimanapun, ini kan proyek uji coba dari Jerman. Saat ini, kami
masih memfokuskan agar air bisa dipompa keluar. Kalau air keluar,
sasaran awal pasokan air adalah lima kecamatan yang telah punya
jaringan air, supaya penyaluran air lebih mudah,” jelasnya.

Perlu disadari bahwa masalah energi merupakan masalah kita bersama sebagai bangsa. Manakala kita berbicara tentang energi maka kita masuk pada ranah multi disiplin, artinya bukan monopoli kelompok atau disiplin ilmu tertentu, tetapi semua orang hendaknya berperan-sekecil apapun perannya- dalam mewujutkan Ketahanan Energi.

Penguasaan listrik oleh Negara melalui PLN membuat masyarakat tidak kreatif dan inovatif. Pasalnya hanya dengan membayar rekening listrik maka pasokan listrik sudah sampai di rumah kita. Akhir-akhir ini dengan terbatasnya pasokan listrik dari PLN, baru terfikir bahwa  ada potensi listrik yang sangat besar yang belum termanfaatkan yaitu Energi Terbarukan (renewable energy). Selain murah energi tersebut terbukti ramah lingkungan.

Potensi energi terbarukan sangatlah besar seperti biomasa, panas bumi, energi surya, energi angin, mikrohidro tetapi sampai saat ini pemanfaatanya masih sangat kecil. Ahli Peneliti dari BPPT Siddik Boedoyo merinci perhitungan energi terbarukan. Potensi energi airyang dimiliki Indonesia mencapai 75 GW dan yang sudah dimanfaatkan 4000 KW, Energi panas bumi 2.300 MW dan digunakan 800 MW.

Dilihat dari tingkat perkembangannya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia dapat dibedakan pada tiga tingkat perkembangan yaitu:

  1. sudah dikembangkan secara komersial (biomasa, panas bumi, dan tenaga air)
  2. sudah dikembangkan tapi masih terbatas ( energi surya,dan angin)
  3. perkembangannya baru pada tahap penelitian (eneergi gelombang)

Pemanfaatan Energi terbarukan masih sangat kecil, hal ini terutama disebabkan harga energi terbarukan belum kompetitif bila dibandingkan dengan harga energi fosil. Belum kompetitifnya energi terbarukan disebabkan diantaranya oleh penerapan kebijakan harga energi terbarukan yang relatif kecil.

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) merupakan teknologi yang
memanfaatkan aliran air sebagai tenaga untuk memutar turbin dan dinamo
atau generator sehingga menghasilkan energi listrik kurang dari 100 kilowatt. PLTMH biasanya digunakan untuk melayani kebutuhan listrik bagi masyarakat pedesaan yang tidak terjangkau layanan listrik negara.

Contoh PLTMH di Minggir, Sleman

Contoh PLTMH di Minggir, Sleman

Teknologi ini mulai diterapkan di banyak negara berkembang semenjak
tahun 1970an, misalnya di Nepal, Peru, Srilanka, Zimbabwe, dan sebagainya. Beberapa daerah di Indonesia sebetulnya sudah sejak lama mengenal dan menerapkan teknologi tersebut dengan cara merakitnya sendiri, misalnya di Sumatera Barat dan di Jawa Barat.

PLTMH merupakan salah satu pilihan pengubahan energi yang paling ramah lingkungan karena tidak seperti pembangkit listrik berskala besar,
PLTMH tidak mengganggu aliran sungai secara signifikan. Yang tidak kalah pentingnya adalah kajian tentang dampak sosial dan lingkungan yang akan ditimbulkan oleh pembangunan tersebut, misalnya seberapa jauh air akan meluap jika dibangun sebuah bendungan kecil, apakah aliran sungai akan terganggu dengan adanya bendungan tersebut, apakah ada lahan-lahan pertanian yang tergenang, dan sebagainya. Mereka sepakat untuk sebisa mungkin meminimalkan dampak buruk bagi lingkungan, misalnya dengan meminimalkan penebangan pohon.
Bangunan fisik yang disiapkan antara lain bendungan kecil sepanjang
lima meter untuk sekedar menaikkan aliran air, parit untuk mengalirkan
air sepanjang 10 meter, dan bak air tempat turbin di pasang. Selain itu
jaringan listrik sepanjang 400 meter dibuat untuk mengalirkan listrik dari
rumah turbin ke rumah panjang.

Tidak seperti pembangkit listrik lainnya yang menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, bensin, solar, dan sebagainya), PLTMH sama sekali tidak menggunakan bahan bakar tersebut. Penerapan PLTMH, oleh karena itu, merupakan upaya positif untuk mengurangi laju perubahan iklim global yang sedang menjadi isu penting dewasa ini. PLTMH berkaitan erat dengan sumber air di daerah hulu sebagai energi utamanya. Oleh karena itu pembangunan PLTMH membuat masyarakat semakin giat menjaga lingkungan, termasuk hutan demi terus tersedianya pasokan aliran sungai. Di sini masyarakat akan merasakan langsung jasa lingkungan yang seringkali tidak diperhitungkan.
Listrik murah dan ramah lingkungan ini berdampak positif bagi masyarakat. Dana untuk membeli bahan bakar bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, memajukan pendidikan karena anak-anak bisa belajar dengan baik di malam hari, memudahkan akses informasi melalui saluran televisi, hingga meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kegiatankegiatan produksi skala kecil yang menghasilkan pendapatan tambahan.
Pembangunan PLTMH di daerah pedesaan tidak lepas dari peran kolektif masyarakat itu sendiri. Merekalah yang mengelola secara mandiri dan membentuk lembaga pengelola, sehingga PLTMH bisa menjadi wahana belajar bagi masyarakat untuk memperkuat kebersamaan melalui aksi-aksi kolektif.

Beberapa prasyarat fisik diperlukan dalam membangun PLTMH, antara lain:

  1. Ketersediaan aliran air yang konstan atau tetap dalam ukuran debit tertentu. Ukuran debit air akan menentukan besarnya energi yang mampu dihasilkan. Setiap ukuran turbin membutuhkan debit air tertentu.
  2. Adanya turbin untuk memutar kumparan dinamo listrik. Ada berbagai macam jenis turbin yang sekarang dikembangkan oleh beberapa lembaga di Indonesia guna menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi alam yang beragam, salah satunya Cihanjuang Inti Teknik di Bandung, Jawa Barat. (http://www.hanjuang.co.id/index.html).
  3. Dinamo, untuk mengubah energi yang dihasilkan oleh putaran turbin menjadi listrik.
  4. Jaringan listrik dari rumah turbin ke pengguna.

Langkah-langkah membangun PLTMH:

  1. Masyarakat berunding untuk membuat kesepakatan dan rencana bersama.
  2. Mengajak ahli untuk melakukan survey lapangan tentang potensi aliran air untuk PLTMH, termasuk mengukur debit dan ketinggian air (sering disebut head).
  3. Menilai dampak lingkungan yang akan diakibatkan oleh pembangunan PLTMH.
  4. Menghitung kebutuhan listrik masyarakat yang akan memanfaatkan. Hal ini penting dilakukan karena kapasitas PLTMH tak terlalu besar, sehingga perlu perhitungan yang cermat untuk menghindari konflik masyarakat.
  5. Menghitung biaya yang diperlukan (pembelian seperangkat turbin, pembangunan sipil, jaringan, dan sebagainya).
  6. Berunding untuk memikirkan dari mana biaya akan didapat, apakah swadaya, bantuan, atau semi-swadaya.

Setelah pembangunan fisik PLTMH, maka pengelolaan dan perawatan merupakan hal yang sangat penting. Perangkat PLTMH (turbin, dinamo) dan
bangunan fisik pendukungnya (bendungan, saluran air, bak penampung,
jaringan listrik dan rumah turbin) memerlukan perawatan. Di samping
maanfaatnya yang besar, listrik juga berbahaya sehingga perlu kehati-hatian
menggunakannya.
Perlu dipertimbangkan bagaimana cara merawatnya dan jika ada kerusakan,
mekanisme mendapatkan biaya perawatan, siapa yang bertanggung jawab,
dan sebagainya. Di Sungai Pelaik, misalnya, masyarakat sepakat untuk iuran
masing-masing pintu (rumah) sebesar Rp. 10.000 setiap bulannya. Disepakati
pula dua orang sebagai operator. Intinya membangun PLTMH bukan pekerjaan sulit, namun pengelolaan dan perawatan ke depannya merupakan tantangan bagi masyarakat. (diambil dari http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/research/…/TNDNews3.pdf)